Thursday, May 15, 2008

Sebuah Refleksi

Sebuah Prolog (di inspirasi dari Novel Sang Alkemiks)

Saat usiaku masih muda, aku tahu akan takdirku

Dan aku yakin bahwa segalanya akan mungkin terjadi

Karena saat itu aku tidak takut untuk bermimpi

Namun seiring berjalannnya waktu, “rasa ragu” mulai menghinggapi diriku

Ku tak tahu dari mana rasa itu muncul?

Ku mulai berfikir ulang dan terucaplah satu rangkai kalimat

“Mustahil ku raih semua mimpi itu”

Tuhan maafkan aku karena kutlah melakukan dusta terbesar

Gelisah, was-was, resah, tanpa arah…..itulah yang mengantui batinku dan mungkin perasaanku ini juga mewakili perasaan teman-teman senasib dan seperjuangan di almamater tercinta. Semester berganti ke semester mulailah timbul pertanyaan nakal dalam diriku “Apakah Aku Di Jurusan Ilmu Pemerintahan Untuk Masa Depan?” Muncul keraguan dalam diriku. Mengapa demikian? Karena Ilmu Pemerintahan selalu dilekatkan kepada profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pejabat pemerintahan di daerah atau di pusat, politisi dan seabrek profesi yang bersinggungan dengan aktivitas pemerintahan. Kalau tidak percaya coba saja anda tanyakan kepada orang yang awam dengan nama Ilmu Pemerintahan atau bertanya ke “Maba IP” (baca: mahasiswa baru ilmu pemerintahan) paling banter anda akan mendapatkan jawaban yang relatif sama.

Ketika masuk Ilmu Pemerintahan jangan pernah berfikir setelah lulus dari sini (Ilmu Pemerintahan) maka 99% SK sebagai PNS sudah ada di tangan dan tinggal menunggu waktu untuk ditempatan didaerah (kita bukan IPDN). Kita (mahasiswa Ilmu Pemerintahan) berbeda dengan para praja IPDN, meskipun secara objek material dan objek formal sama-sama mempelajari gejala pemerintahan. dari cara masuknya saja sudah berbeda toh sudah pasti outputnya juga berbeda. Setidaknya kita mengerti akan mahalnya arti dari kebebasan (baca: berfikir). Kita dilatih untuk berfikir secara keras bukan dilatih untuk membentuk otot yang keras. Konon kata leluhur Rene Descartes eksistensi manusia itu diakui bila manusia itu mampu berfikir “Cogito Ergo Sum”.

Mungkin nama ilmu pemerintahan kalah mentereng dengan ilmu politik. Bila dirunut dari asbabul nuzulnya memang kodratnya sudah demikian. Jauh sebelum ilmu pemerintahan ada, ilmu politik lebih dulu muncul. Dalam memandang masa depan bila mengikuti alur berfikir secara “linier tradisional” plus pandangan kolot warisan zaman kolonial yang diwarisi ke generasi orang tua kita. Mereka (sebagian dari orang tua) masih mempunyai anggapan bahwa lulusan sarjana ekonomi, kedokteran, teknik lebih mempunyai masa depan yang cerah ketimbang lulusan sarjana lainnya. Bukan bermaksud untuk suudzon tapi kenyataannya memang berkata demikian.

Apakah ada hypothesis yang mengatakan “jika dia sarjana X maka dia akan menjadi X?” Sesungguhnya tidak ada korelasi yang lurus antara lulusan dari jurusan X dengan pekerjaan yang akan didapatkan. Bukan berarti orang yang lulusan dari jurusan X akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dia pelajari . Apalagi di Indonesia FISIP merupakan penyumbang angka pengangguran terbesar (bukan mau nakut-nakuti lho). Semuanya itu hanya masalah opportunity dan bagaimana kita memanfaatkannya. Namun, pada akhirnya yang menentukan adalah “mutu” dari masing-masing individu itu sendiri. Jika kita selalu berkutat dengan “ketakutan” dan meremehkan diri sendiri maka kita tidak akan menjadi apa-apa, sesuai dengan bayangan buruk kita itu

Tindakan adalah cermin bagaimana anda melihat dunia

Dunia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat.

Ia menggemakan dari apa yang ingin kita dengar

Bila anda takut untuk menghadapi dunia

Itu tidak ubahnya anda takut untuk menghadapi diri anda sendiri.

Masing-masing dari kita tentunya mendambakan masa depan yang lebih baik Lalu Bagaimana dengan Masa Depan? Masa Depan siapa? Masa Depan Yang Bagaimana?. Apakah kita di IP untuk menjemput masa depan kita masing-masing? Jadi gunanya apa kita berada disini? Jangan-jangan dalam hati kecil kita sendiri kita telah melakukan apa yang disebut dengan “Dusta Terbesar?”

Apa cih dusta terbesar itu ??? Yang dimaksud “dusta terbesar” adalah dimana pada satu titik dalam kehidupan kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib.

Misalkan sebenarnya anda tidak ingin masuk IP entah itu bisa dikarenakan paksaan dari ortu (mungkin ga ya?) he…3x atau karena tidak ada pilihan jurusan lain bagi anda untuk bisa diterima di PTN. Dan pada akhirnya anda dikendalikan oleh nasib anda sendiri. Itu bisa dirasakan ketika anda sudah dua atau tiga tahun kuliah disini. Dan itu disebabkan tidak ada kecintaan dalam diri anda terhadap apa yang telah menjadi takdir bagi anda. Jadi apakah anda termasuk orang yang telah melakukan “dusta terbesar?”

Jangan pernah takut, karena Indonesia menawarkan peluang yang terbuka bagi “semua anak bangsa” yang siap mengabdikan fikiran maupun tenaganya bagi kemajuan bangsa.

Percayalah selama kita mempunyai skill dan kemauan untuk selalu belajar di Universitas Kehidupan (University of Life). Kita bisa mendapatkan apa saja dari kehidupan nyata yang mungkin tidak pernah kita dapatkan dari bangku kuliah ataupun dari skripsi. Hal itu bisa berupa rangkaian pengalaman-pengalaman hidup kita, jawaban-jawaban atas pertanyaan hidup kita. Niscaya kalau kita diperkenankan untuk menjadi orang yang berhasil, kelak diakhir perjuangan, kita akan menertawakan keberhasilan kita…Amin (Insya Allah)

Saat ini nikmati saja sisa-sisa semester yang kita punyai sambil bergelut dengan skripsi (bagi angkatan kolot yang udah berkarat)। Bagi yang baru masuk dan tidak kerasan atau bahkan merasa menyesal silahkan kemasi segera barang-barang anda, atau ingin mencoba ikut SPMB lagi. Saya hanya bisa mendoakan semoga anda lulus dan mendapat apa yang anda inginkan. Yakinlah teman bahwa tidak ada yang sia-sia dengan apa yang telah kita lakukan di Laboratorium ini (baca: Kawasan Pendidikan Jatinangor).


Oleh: Deddy Ernawan

____________
http://www.go-kerja.com